2.3

Pagi itu Dinar masih merasa ada orang lain di dalam dirinya. Sesuatu yang bukan dirinya. Yang membuat keadaan jiwanya begitu kacau.

Kenyataannya memang ada orang lain di dalam perutnya—menendang-nendangnya terus-menerus dari dalam sana. Sebutlah, itu anaknya, janinnya, jabang bayinya. Yang tidak punya ayah, yang entah akan dilahirkannya atau tidak, yang mungkin tidak akan pernah punya masa depan.

Sudah seharian Dinar masih membenamkan wajahnya pada bantalnya. Dadanya sesak, penglihatannya kabur karena air mata. Dia benar-benar tidak mengenal lagi suara isak tangisnya sendiri—dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya memerintah dirinya sendiri.

Di sebelahnya jendela sudah dibukakan oleh neneknya sejak pagi tadi. Langit yang cerah, taman dengan bunga-bunga yang segar merekah, dan embun yang melekat pada dedaunan bekas hujan malam kemarin. Begitulah Bandung versi rumah-tua-neneknya setiap pagi—setiap dia mampir menginap di sana, yang sudah sangat jarang dilakukannya selama lima tahun terakhir.

Dan begitulah keadaan hatinya pagi itu. Hancur remuk dan tidak dia mengerti.

Sementara itu, setelah isak tangisnya berhenti beberapa saat kemudian, baru disadarinya musik Seven Daffodils sejak tadi mengalun dari arah teras. Neneknya pasti sedang duduk dengan kakeknya, neneknya merenda kain dan kakeknya membaca koran. Sepoci teh hangat diletakkan di sebelah satu piring kecil berisi jajanan pasar. Sebuah bayangan yang begitu melegakan tentang perkawinan, sebuah akhir cerita cinta yang bahagia. Dan Dinar tak akan pernah memiliki masa depan seperti itu. Telah nampak baginya dia telah menggagalkan segalanya dalam hidupnya.

Sudah terbayang dalam benaknya bahwa setelah ini dia akan diusir dari rumahnya sendiri, melahirkan bayi tanpa ayah, menjadi single parent. Dan entahlah apa lagi yang akan terjadi nanti. Dia yakin dia pasti akan bunuh diri jika kedua orangtuanya mengusirnya, dia juga tidak bisa membayangkan dia harus melalui proses persalinan yang menyakitkan.

Lalu kenapa dulu dia nekat melakukan itu dengan kekasihnya?

Apa yang gue pikirin waktu itu? Sekarang apa yang mesti gue lakuin untuk keluar dari  situasi ini?

Jalan satu-satunya pasti aborsi.

Tapi dia tahu itu dosa.

**

Semua orang di rumah itu menyayangi Dinar. Tantenya berkali-kali menyendok sayuran dan daging ke piring Dinar, nenek dan kakeknya nampak begitu riang sepanjang hari, seisi rumah menyambutnya. Seperti ketika dia kecil dulu.

Tapi apa orang-orang rumah tahu yang duduk di sana bukan lagi satu orang Dinar? Ada Dinar junior di dalam perutnya.

Sementara mengunyah makanannya, Dinar tak hentinya memikirkan apa yang akan dia lakukan pada janinnya. Sampai kemudian cairan dari dalam perutnya tiba-tiba menyodok tenggorokkannya. Dinar berlari ke arah tempat cuci piring dan muntah di sana. Isi kepalanya membaur tak menentu—tapi sakit yang hebat tetap berasal dari dadanya. Rasa sesak yang sama. Sepanjang saat. Sepanjang waktu. Sejak saat pertama kali dia mengetahui dia telah hamil.

“Kamu kenapa, Din?” Budhe-nya tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

Sentuhan yang mendarat di bahu Dinar membuat seluruh tubuhnya terguncang dan bergidik, dan bayi di dalam perutnya kembali menendangnya, namun dengan lebih lembut.

Dipijit-pijitnya dahi Dinar dan dibenamkannya wajah keponakannya itu di dadanya. “Kamu kenapa? Kok nangis?”

“Nggak kenapa, Budhe. Kayaknya cuma kebanyakan tidur tadi.”

“Masuk angin, ya? Mau biar dipijat Inah?”

Dinar menggeleng sekenanya.

“Ya sudah, mungkin karena baru adaptasi sama cuaca di Bandung. Kalau begitu, kamu tinggal di sini sampai tengah Januari aja, ya, Din? Lamain aja di sini. Sepupu-sepupumu masih kangen sama kamu, loh. Lagian, rugi juga adaptasinya kalau kamu malah buru-buru pulang. Masih liburan panjang, kan?” Budhe Cempaka memborbardirnya dengan permohonannya seketika itu juga.

Dinar menarik nafas. Liburannya memang masih panjang, masih ada satu setengah minggu lagi. Tapi, aborsinya?

“Sudah, jangan banyak dipikirin. Nanti pas tahun baru, bakar kembang api di halaman belakang sama adik-adikmu.”

“Budhe, tapi aku ada banyak tugas.”

“Di sini ada banyak teman dan saudara, tugas dibanding teman lebih penting mana, hayo? Kapan lagi kamu menginap lama, Din? Dulu pas bapakmu masih hidup, kamu sering banget main ke sini. Sudah lima tahun ini nenek nggak pernah lihat kamu. Kakek-nenek masih…”

“Tapi ibu sendirian di rumah.”

“Nanti siang Budhe telepon ibumu. Apa, sih, yang enggak buat adik ipar kesayangannya ini?”

“Budhe, tapi aku…”

Dinar mendongakkan wajahnya dan di hadapannya Budhe Cempaka melotot sambil tersenyum, pancaran matanya menyorotkan kasih sayangnya pada Dinar. “Kalau perlu, kamu tinggal di sini sebulan.”

“Budhe, aku…”

“Jangan ngebantah…”

“Aku keluar main sebentar, ya?”

Budhe Cempaka menatap aneh ke arah Dinar. “Kamu bukannya lagi sakit?”

“Aku bosan diam di rumah. Aku mau jalan-jalan di sekitar rumah aja, kok.”

“Sama pakdhe-mu, ya? Atau ditemani siapa, gitu?”

Dinar mengerutkan wajahnya dan memasang tatapan memelas.

“Memang kamu tahu jalanan Bandung?” tanya Budhe-nya.

Dinar menggigit permukaan bibirnya. “Cuma dekat-dekat sini aja, kok, Budhe. Lagian, aku masih hafal rute angkot, kan?”

“Mana Budhe bisa percaya?”

“Kalau gitu, aku janji bakal menginap seminggu lagi di sini. Please?”

Budhe Cempaka tersenyum dan mengacak rambut Dinar, “Asal jangan jauh-jauh.” Peringatnya sebelum Dinar kembali ke kamar dan mengganti pakaian. Dan keluar rumah dengan membawa kamera DSLR-nya bersamanya.

**

Setelah jalan-jalan seharian tanpa arah yang pasti, bergonta-ganti angkot dengan jurusan tak jelas, di sanalah akhirnya Dinar berhenti. Di jembatan itu pada waktu berbeda, pernah duduk ayahnya bersama ibunya. Masing-masing mengamit tangan Dinar. Dan saat itu, mereka berfoto berkali-kali.

Kenyataannya, kini dia berdiri sendirian di sana.

Tak ada seorang pun berfoto di jembatan itu. Sepi. Dinar bahkan hampir merasa dia bisa mendengarkan suara nafasnya sendiri. Seandainya saja tidak ada kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di sana. Dinar tersenyum sendiri. Jembatan itu begitu kontras dengan keadaan jalan yang saat itu sedang ramai-ramainya.

Sebenarnya ruang yang menyimpan waktu atau waktu yang menyimpan ruang?

“Hola.” Seseorang telah berdiri di belakangnya, menjepret wajah Dinar dengan kamera DSLR di tangannya ketika Dinar menoleh ke arahnya.

“Kau?”

“Masih ingat namaku?”

“Ya, pria aneh di kereta. Siapapun kamu.”

Pria di hadapannya tertawa cukup keras. “Ya, dan kau Nona Alien. Dari manapun asalmu.”

“Apa yang…”

“Sigit, namaku Sigit. Aku membuntutimu sejak tadi. Ingin tahu dari mana asalmu.” Jawab pria itu cepat. Tentu saja dia tahu apa yang akan Dinar katakan. Tentu saja. Pria itu mungkin adalah alien yang sesungguhnya, pikir Dinar.

Dinar lanjut mengerutkan dahinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Sigit, ya nama pria itu, pria itu duduk di pinggir jembatan. Dari sana dia kembali menjepretkan kameranya ke arah Dinar. “Memotretmu.”

“Kau…”

“Tidak mau balas memotretku?” Dan pria itu kembali tertawa dengan riangnya.

Dinar menggeleng spontan. Kameranya masih menggantung di lehernya, sejak tadi posisinya tak berpindah sedikit pun. Tapi, yang membuat Dinar penasaran, meski pria itu mengungkit-ungkit masalah kamera, entah kenapa dia tetap tak menghentikan tatapannya tepat ke arah mata Dinar.

Tidak waras. Sinting. Gila. Maniak.

Pria itu nampak semakin riang mendapati tatapan kasar Dinar. Dinar tidak tahu apa yang ada di pikiran pria maniak gila sinting tidak waras itu. Meski sebenarnya tawa pria itu selalu menimbulkan efek yang aneh pada tubuhnya. Seperti dadanya yang berdetak semakin kencang, seperti janin di dalam perutnya yang menendang-nendangnya tidak menentu.

“Aku menginap di hotel di sana itu, loh. Kebetulan aja jalan-jalan ke sini.” Pria-tanpa-rasa-malu itu menunjuk ke arah sebuah bangunan losmen dengan catnya yang terkelupas pada beberapa bagian. Gambaran yang cukup masuk akal untuk seorang pria urakan tak jelas sepertinya. Dinar mendelik memperhatikan penampilan pria itu. Tapi, siapa namanya tadi, Sigit, pria itu, si Sigit itu nampak dalam kondisi baik-baik saja. Dia sepertinya masih sempat mandi.

Dinar langsung percaya. Tapi… “Itu… hotel?”

Tempat itu lumayan dekil. Bagi Dinar, seharusnya pria itu menggunakan istilah yang lebih wajar. Tempat itu… samasekali tidak mirip sebuah hotel.

“Manusia dengan rambut pendek sepertimu juga masih kuakui sebagai seorang perempuan, kok.” Cetus Sigit iseng. “Yah, juga sekalipun dadamu lumayan rata.”

Dinar tersenyum kecut sebentar, lalu berjalan meninggalkan Sigit yang masih duduk di pinggir jembatan. Setetes air jatuh dari langit sementara Dinar terus berjalan semakin menjauhi Sigit.

Kemudian gerimis.

“Seringkali langit tak mendengar suara katak yang meminta hujan.” Sigit berujar di belakangnya. “Tapi, yeah, aku percaya langit selalu mendengar suara pecinta yang meminta kekasihnya biar tetap tinggal bersamanya.” Tambah pria itu sementara derap langkahnya akhirnya menyamai langkah cepat Dinar.

“Baru sekarang aku ketemu laki-laki sinting, gila, maniak, nggak waras sepertimu!” Dinar memaki.

Sigit tertawa di hadapannya. Hujan sudah begitu deras sekarang. “Sejujurnya baru sekarang aku keranjingan menggoda seorang perempuan.”

Dinar menggelengkan kepalanya sebentar. “Puitis. Gaya bicaramu selalu puitis.” Dan kemudian dia melipat tangannya di dadanya, “Tapi kalau aja kamu sadar, wajahmu sebenarnya lumayan, kok. Kamu bisa cari cewek lain buat kamu godain.”

“Cewek lain, ya? Susah, ya. Gimana kalau aku ngegodain kamu lain waktu aja?”

Cowok gila.

**

Posted in Fragments | Tagged | Leave a comment

Protected: Drafting: Supergirl

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,

Protected: Drafting: Fetus in Fetu

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,

Protected: Drafting: Lovely Love

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,

Protected: Drafting: I won’t Forget

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,

Protected: Drafting: Religia

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,

Protected: Drafting: Evellyn

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Drafting | Tagged ,